Selamat datang di Blog Mahasiswa IPB. Ini adalah postingan pertamamu. Edit atau hapus postingan ini dan mulailah menulis blog sekarang juga!

Di pesisir pantai Indonesia ada tiga tipe ekosistem yang penting, yakni terumbu karang, mangrove, dan padang lamun. Di antara ketiganya, padang lamun paling sedikit dikenal.

Kurangnya perhatian kepada padang lamun, antara lain, disebabkan padang lamun sering disalahpahami sebagai lingkungan yang tak ada gunanya, tak memberikan manfaat bagi kehidupan manusia. Di kalangan akademisi pun masalah padang lamun baru mulai banyak dibicarakan setelah tahun 2000.

*Lamun*

Lamun (seagrass) adalah tumbuhan berbunga yang telah menyesuaikan diri hidup terbenam di dalam laut dangkal. Lamun berbeda dengan rumput laut (seaweed) yang dikenal juga sebagai makroalga. Lamun berbunga (jantan dan betina) dan berbuah di dalam air. Produksi serbuk sari dan penyerbukan sampai pembuahan semuanya terjadi dalam medium air laut. Lamun mempunyai akar dan rimpang (rhizome) yang mencengkeram dasar laut sehingga dapat membantu pertahanan pantai dari gerusan ombak dan gelombang. Dari sekitar 60 jenis lamun yang dikenal di dunia, Indonesia mempunyai sekitar 13 jenis.

Suatu hamparan laut dangkal yang didominasi oleh tumbuhan lamun dikenal sebagai padang lamun. Padang lamun dapat terdiri dari vegetasi lamun jenis tunggal ataupun jenis campuran. Padang lamun merupakan tempat berbagai jenis ikan berlindung, mencari makan, bertelur, dan membesarkan anaknya. Ikan baronang, misalnya, adalah salah satu jenis ikan yang hidup di padang lamun.

Amat banyak jenis biota laut lainnya hidup berasosiasi dengan lamun, seperti teripang, bintang laut, bulu babi, kerang, udang, dan kepiting. Duyung (Dugong dugon) adalah mamalia laut yang hidupnya amat bergantung pada makanannya berupa lamun. Penyu hijau (Chelonia mydas) juga dikenal sebagai pemakan lamun yang penting. Karena itu, rusak atau hilangnya habitat padang lamun akan menimbulkan dampak lingkungan yang luas.

Padang lamun sering dijumpai berdampingan atau tumpang tindih dengan ekosistem mangrove dan terumbu karang. Bahkan, terdapat interkoneksi antarketiganya.

Karena fungsi lamun tak banyak dipahami, banyak padang lamun yang rusak oleh berbagai aktivitas manusia. Luas total padang lamun di Indonesia semula diperkirakan 30.000 kilometer persegi, tetapi diperkirakan kini telahmenyusut 30-40 persen.

Kerusakan ekosistem lamun, antara lain, karena reklamasi dan pembangunan fisik di garis pantai, pencemaran, penangkapan ikan dengan cara destruktif (bom, sianida, pukat dasar), dan tangkap lebih (over-fishing). Pembangunan pelabuhan dan industri di Teluk Banten, misalnya, telah melenyapkan ratusan hektar padang lamun. Tutupan lamun di Pulau Pari (DKI Jakarta) telah berkurang sekitar 25 persen dari tahun 1999 hingga 2004.

Mengingat ancaman terhadap padang lamun semakin meningkat, akhir-akhir ini mulailah timbul perhatian untuk menyelamatkan padang lamun. Undang-Undang Nomor 27 Tahun 2007 tentang Pengelolaan Pesisir dan Pulau-pulau Kecil juga telah mengamanatkan perlunya penyelamatan dan pengelolaan padang lamun sebagai bagian dari pengelolaan terpadu ekosistem pesisir dan pulau-pulau kecil. Program pengelolaan padang lamun berbasis masyarakat yang pertama di Indonesia adalah Program Trismades (Trikora Seagrass Management Demonstration Site) di pantai timur Pulau Bintan, Kepulauan Riau, yang mendapat dukungan pendanaan dari Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNEP) dan baru dimulai tahun 2008.

*”Blue Carbon”*

Awal Oktober 2009, tiga badan PBB, yakni UNEP, FAO, dan UNESCO, berkolaborasi meluncurkan laporan yang dikenal sebagai Blue Carbon Report. Laporan ini menggarisbawahi peranan laut sebagai pengikat karbon (blue carbon), sebagai tandingan terhadap peranan hutan daratan (green carbon) yang selama ini sangat mendominasi wacana dalam masalah pengikatan karbon dari atmosfer. Di seluruh laut terdapat tumbuhan yang dapat menyerap karbon dari atmosfer lewat fotosintesis, baik berupa plankton yang mikroskopis maupun yang berupa tumbuhan yang hanya hidup di pantai seperti di hutan mangrove, padang lamun, ataupun rawa payau (salt marsh). Meskipun tumbuhan pantai (mangrove, padang lamun, dan rawa payau) luas totalnya kurang dari setengah persen dari luas seluruh laut, ketiganya dapat mengunci lebih dari separuh karbon laut ke sedimen dasar laut.

Keseluruhan tumbuhan mangrove, lamun, dan rawa payau dapat mengikat 235-450 juta ton karbon per tahun, setara hampir setengah dari emisi karbon lewat transportasi di seluruh dunia.

Dengan demikian, penyelamatan ekosistem padang lamun sangat penting, dan tidak kalah strategis, dibandingkan dengan pengelolaan ekosistem terumbu karang yang sudah mulai mendunia dengan Coral Triangle Initiative atau ekosistem mangrove dengan Mangrove for the Future.

*Lokakarya nasional*

Berdasarkan pertimbangan akan pentingnya sumber daya padang lamun ini, pada November 2009 diselenggarakan Lokakarya Nasional Lamun I di Jakarta dengan tema ”Peran Ekosistem Lamun dalam Produktivitas Hayati dan Perubahan Iklim”. Lokakarya ini diprakarsai bersama oleh Departemen Kelautan dan Perikanan, Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, dan Pusat Kajian Sumber Daya Pesisir dan Lautan-IPB, yang dihadiri instansi terkait dan para pakar, LSM, serta pemerhati lamun Indonesia.

Dalam lokakarya ini dicapai beberapa output yang mencakup status pengetahuan (informasi) dan pengelolaan lamun; kebutuhan riset dan informasi untuk mengantisipasi perubahan iklim; strategi dan rencana aksi nasional dalam pengelolaan lamun; serta terbentuknya jaringan nasional lamun Indonesia.

ANUGERAH NONTJI *Mantan Kepala Pusat Penelitian Oseanografi-LIPI, Indonesian
Seagrass Committee*

Ikan ternyata memiliki kandungan gizi yang luar biasa. Sejumlah pakar menjelaskan selain omega 3, di dalam ikan terkandung protein asam amino yang lengkap, bermacam-macam Vitamin, mineral, serta yodium.

Tak bisa dipungkiri Indonesia memiliki sumberdaya kelautan dan perikanan. Perairan lautannya mencapai 5,8 juta km dan potensi lestari ikan laut sebesar 6,4 juta ton per tahun. Namun Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menyebutkan, target tingkat konsumsi ikan nasional saat ini baru mencapai 30,17 kg/kapita/tahun, amat jauh jika dibandingkan dengan tingkat konsumsi ikan di beberapa Negara Asia lainnya.

Di Jepang misalnya, tingkat konsumsi ikan mencapai 110 kg/kapita/tahun, Korea Selatan 85 kg/kapita/tahun, Malaysia 54 kg/kapita/tahun dan Thailand 35 kg/kapita/tahun.

Singapura mencapai 70 kg/kapita/tahun, Filipina 40 kg/kapita/tahun, sedangkan Hongkong 80 kg/kapita/tahun dan Taiwan 65 kg/kapita/tahun.

Data tersebut membuktikan bahwa selama ini konsumsi ikan di Indonesia bukan sesuatu yang mahal, karena dua per tiga negeri ini terdiri atas laut dan ikan mudah di dapat.

Sementara itu fakta memperlihatkan, produk perikanan nasional lebih banyak di nikmati pasar luar negeri. Padahal Badan Kesehatan Dunia (WHO) menganjurkan tiap negara memperhatikan tingkat konsumsi ikannya setidaknya 31,4 kilogram per kapita per tahun.

Wakil Ketua Komisi Tetap Ketahanan Pangan dan Industri Primer Pertanian Kamar Dagang dan Industri (Kadin), Don P Utoyo, mengutip standar Widya Gizi 2008 yang menyebutkan, pemenuhan protein hewani asal ikan dituntut mengambil porsi lebih besar dibandingkan sumber protein hewani lainnya.

Rendahnya tingkat konsumsi ikan tersebut diakibatkan karena masih adanya anggapan di kalangan masyarakat, bahwa makan ikan kurang bergengsi, atau indentik dengan kemiskinan, bahkan ada anggapan sebagian masyarakat yang menyatakan, mengonsumsi ikan terlalu banyak akan mengakibatkan cacingan atau alergi.

Padahal protein yang terdapat dalam ikan sangat diperlukan manusia karena lebih mudah dicerna, juga mengandung asam amino dengan pola hamper sama dengan asam amino yang terdapat dalam tubuh manusia. Selain itu, protein ikan juga terdiri atas asam amino esensial yang tidak mudah rusak selama pemasangan, dan lebih lengkap dibandingkan dengan sumber protein hewan.

Kandungan gizi

Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional Asosiasi Perusahaan JasaBoga Indonesia, R.a Hj. Ning Sudjito, ST mengungkapkan ikan selain rasanya enak juga memiliki kandungan gizi yang sangat berguna bagi manusia.

Kandungan gizinya dapat menyebabkan terhindar dari penyakit degeranatif seperti jantung koroner, tekanan darah tinggi , stroke dan kanker. Belum lagi, kandungan protein ikan setingkat dengan protein daging , sedikit di bawah telur dan diatas protein serealisa dan kacang-kacangan. Asam amino ikan dapat meningkatkan mutu protein pangan lain.

“Misalnya, nasi memiliki kadar asam amino yang rendah, tetapi ikan mempunyai kadar lisin tinggi. Jadi, mengonsumsi nasi dengan lauk ikan akan saling melengkapi,” tambah Ning.

Ahli fizi Institut Pertanian Bogor, Hardiansyah, mengatakan ikan memang menyehatkan dan mencerdaskan. “Ikan adalah sumber protein asam amino yang lengkap yang dibutuhkan tubuh,” ujarnya.

Ikan juga kaya akan vitamin B kompleks, B6, dan B12 serta mineral.” Ikan pun mengandung lemak, tapi tak banyak. Lemakny pun lemak bagus’ ujarnya menambahkan. Ikan laut kaya akan lemak, vitamin dan mineral, sedangkan ikan tawar banyak mengandung karbohidrat.

Ikan laut memiliki kandungan yodium tinggi yang bisa mencapai 830 mikro gram per kilogram. Berbeda dengan daging yang hanya 50 mikro kilogram dan telur 93 mikrogram.

Selain itu, ikan laut mengandung omega-3 yang bermanfaat menurunkan kadar kolestrol dalam darah. Jadi, sering mrngkonsumsi ikan laut dapt membantu mencegah terjadinya atesrosklerosis dan penyakit jantung.

Asam lemak omega-3 dan omega-6 pada ikan dapat meningkatkan kecerdasan anak. Asam lemak ini juga sangat membantu bagi ibu hamil yang dapat membentuk oto janin. Makanya, disarankan ibu hamil banyak mengkonsumsi ikan.

Minyak hati ikan laut juga menjadi sumber vitamin Adan D. Vitamin A yang ada di dalam minyak ikan termasuk yang mudah diserap. Dengan pemberian ikan minyak hati ikan pada balita bisa mencukupi kebutuhan vitamin A dan D, serta omega-3.

Sekedar tambahan, ikan laut juga banyak mengandung fluor. Pada anak-anak yang cukup mendapat giginya lebih sehat. Makanya, jarang ditemui anak sakit gigi ynag tinggal di pantai karena bnayk mengkonsumsi ikan laut.

Tabel penyediaan Ikan Untuk Konsumsi Tahun 2004-2008

Rincian

Tahun

Kenaikan
Rata-rata (%)

2004

2005

2006

2007

2008

Total (1000 ton)

4901.13

5249.57

5759.21

6380.66

6850.69

8.74

Per Kapita (kg/Kap/th)

22.58

23.95

25.94

28.28

29.98

7.35
Sumber : DKP, Tahun 2010

Rincian

Tahun

Kenaikan
Rata-rata (%) 2005-2008

Kenaikan
Rata-rata (%) 2005-2009

2005

2006

2007

2008

2009

Konsumsi Ikan

23.95

25.03

26.00

28.00

30.17

5.36

5.96
Sumber : DKP, Tahun 2010

Sumber : Majalah Demersal Edisi februari 2010

Sejak beberapa bulan ini sebagian besar pengolah telah menghentikan pemakaian formalin dalam memproduksi ikan asin karena takut kena hukuman. Kami sebelumnya tidak tahu kalau ternyata formalin itu berbahaya bagi kesehatan,? kata Suwandi, pengolah ikan.

Masalah baru
Namun, masalah baru kini harus dihadapi para pengolah itu. Sejak tidak memakai bahan pengawet berbahaya itu, praktis omzet penjualan mereka merosot drastis hingga mencapai lebih dari 40 persen.

Produk ikan asin yang telah dikirim pun banyak yang dikembalikan karena kondisi fisiknya telah hancur dan dianggap cacat produksi.

Dengan tidak memakai bahan pengawet, ikan asin yang diproduksi memang jadi terlihat kusam dan lembek, hanya bertahan dua minggu dan bau ikan asinnya sangat menyengat. Proses penjemuran jadi lebih lama dan rendemennya sangat sedikit sehingga berat bersih hasil olahan itu jadi jauh berkurang.

Hasil olahan kami jadi kurang laku. Para pengepul tidak mau beli, keluh Suwandi.

Karena itu, penerapan sanksi hukum dinilai tidak menyelesaikan masalah dalam pengolahan ikan dan membuat jera para produsen yang nakal.

Kami berharap adanya alternatif bahan pengawet yang aman digunakan dalam pengolahan ikan. Jika tidak, ini bisa mematikan usaha kami,? kata Suwandi menegaskan.

Evy Rachmawati
Sumber: Kompas & Republika